Pengantar dari pengasuh Manglayang Farm Online

Tulisan ini dikirimkan melalui email ke alamat pengasuh, dan pesan beliau mohon namanya disamarkan saja apabila tulisan ini akan dimuat di blog atau milis. Tulisan ini sudah mengalami penyuntingan beberapa tanda baca dan kesalahan ketik (walaupun tidak menghilangkan semua kesalahan ketik).

Selamat membaca dan silahkan tuliskan komentar anda untuk opini ini.
 

SURAT PEMBACA: Konsep Pertanian Organik vs. Pabrikasi Pupuk Organik
oleh anonymous

Ketika membaca artikel kompos di blog Manglayang, saya teringat diskusi ngalor ngidul beberapa waktu lalu bersama seseorang yang merupakan teman sekaligus guru. Tidak terasa jari-jari menari diatas kibord komputer usang, menuliskan apa yang ada di kepala.
Tulisan ini sama sekali bukan bermaksud melakukan black campaign pada penjual atau pengusaha pupuk organik tapi hanya sekedar melontarkan opini dan pendapat pribadi.
Mari kita mulai saja.

1. definisi pupuk organik

    beberapa situs menampilkan definisi mengenai (pupuk) organik, saya simpulkan secara umum saja:
    pupuk organik adalah pupuk/fertilizer yang dibuat dari bahan dasar berupa materi organik. Seperti kotoran ternak dan bagian dari tumbuhan.
2. definisi pertanian organik
    masih debatable, tapi definisi yang (saat ini) menurut saya pas dan dianut (kayak agama aja) adalah:
"Pertanian organik dapat didefinisikan sebagai pendekatan terhadap sistem budaya tani yang bertujuan untuk menghasilkan sistem produksi tani yang terintegrasi, humanis, dan berkelanjutan baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi.


ditambahkan..

Titik berat pertanian organik terletak pada penggunaan sumber daya yang bisa diperbaharui (renewable) yang berasal dari dalam (lokal) atau sekitar lahan pertanian dan penerapan manajemen ekologi serta pengetahuan tentang proses dan interaksi biologi, yang bertujuan untuk menghasilkan tingkat produksi pertanian yang pantas, ternak dan nutrisi untuk umat manusia, perlindungan terhadap hama dan penyakit dan tetap memperhatikan timbal balik terhadap manusia dan sumber daya lain yang digunakan.
Sementara itu, semua input dari luar (maksudnya dari luar lahan pertanian) baik kimia maupun organik, dikurangi sebanyak mungkin.
"
(dari http://www.wirs.aber.ac.uk/research/organics/define.html, maaf kalau terjemahannya kurang tepat, tapi kira2 begitulah hehe)"
Intinya adalah penggunaan asupan dari luar lahan pertanian sekecil mungkin, yang berarti juga akan meminimalisasi penggunaan BBM untuk transportasi. Memang tidak selalu mudah, dan karenanya tidak ada paksaan untuk sebuah usaha tani menjadi pertanian yang organik :)

Konsep seperti ini sebetulnya sudah jamak pada beberapa wilayah di Indonesia. Keluarga petani yang hanya memiliki lahan tidak lebih dari satu atau dua hektar, punya beberapa ekor ternak ayam, kambing atau sapi, ada kolam ikan, juga kebun talun yang menjadi tempat hidup berbagai macam mahluk, baik tanaman keras tahunan, tanaman obat maupun mikroorganisme yang menyuburkan tanah. Lahan pertaniannya kalau berair dibuat sawah, kalau kering dibuat ladang, ditanami berbagai tanaman baik palawija maupun sayuran. Mulai jagung sampai singkong, dari kangkung sampai ketimun. Hasil pertaniannya sebagian dimakan sendiri, sisanya yang bisa disimpan ditaruh dalam lumbung untuk persediaan atau dijual ke pasar lokal atau di barter dengan komoditi lain dengan tetangga.

Menurut saya inilah pertanian organik yang benar-benar organik. Small scale, sustainable farming kalo kata orang londo. Keluarga petani tradisional seperti ini sadar tidak sadar terbukti memiliki ketahanan pangan dan daya hidup yang sangat baik. Ketergantungan mereka terhadap asupan dari luar sangatlah kecil.
Pertanian seperti ini rasanya sudah semakin jarang ditemui seiring dengan semakin bertambahnya pengetahuan tentang pertanian modern dan maraknya penggunaan pupuk serta pestisida kimia, benih transgenik yang mempromosikan hasil yang berlipat ganda, atau benih hibrida yang menuntut perlakuan intensif, berbagai macam hama dan penyakit pertanian yang datang silih berganti, serta  pengusahaan pertanian dengan skala yang besar dan seterusnya..
Petani akhirnya ketagihan dengan sarana produksi pertanian yang instan karena mudah dan cepat mendapatkannya. Ngapain capek-capek mengolah kotoran untuk mendapatkan pupuk, kalau saya bisa membelinya (atau menghutangnya) ke toko :) .
Saya cukup setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa penggunaan kompos sebagai substitusi atau pengganti dari pupuk kimia akan mengurangi ketergantungan para petani pada pupuk kimia, namun kita harus hati-hati juga, pupuk organik/kompos yang bagaimana?.
Apakah kompos (atau pupuk organik) itu yang diproduksi dalam skala pabrikan, yang produksinya membutuhkan bahan dalam jumlah besar. Bahan kotoran sapi dan ayamnya harus menempuh jarak puluhan atau ratusan kilometer sebelum di proses menjadi kompos, jerami sebagai bahan coklatan diangkut dari lahan sawah yang jauh. Dan kemudian setelah produknya jadi, dipasarkan kembali sampai jauh ke pelosok-pelosok, bahkan ke tempat dimana bahan-bahan pupuk tersebut didapat.
Olala, saya tidak bisa membayangkan berapa liter BBM yang dibakar untuk menghasilkan sekantong pupuk organik yang seperti ini..
Dan sudah bisa ditebak siapa yang harus membayar semua ongkos transportasi dan BBM itu, tentu penggunanya para petani dan pekebun.
Dan bagaimana jadinya bila kelak petani kembali mengalami ‘ketagihan’ akan pupuk organik tanpa memiliki kemampuan untuk memproduksinya?. Jika saluran distribusi pupuk organik itu terganggu, atau pabriknya tutup dsb? bukankah ini bisa berarti para petani lepas dari mulut macan (pupuk kimia) masuk mulut buaya (pupuk organik skala massal)? Sejarah terulang.
Dapat disimpulkan bahwa pupuk organik yang diproses secara massal dan dengan sistem pabrikasi sebetulnya sulit sejalan dengan prinsip-prinsip pertanian organik itu sendiri. Dengan kata lain, pupuk organik yang tidak organik :) .
Lalu apakah pupuk organik sama sekali tidak boleh di pabrikasi? mungkin ada jalan lain..
Yang bisa terpikir oleh saya adalah bila saya seorang produsen pupuk organik yang benar-benar mengusung aliran
punk rock, eh .. aliran organik. Bila mampu, saya akan berusaha menyederhanakan proses pembuatan pupuk dan mendekatkan pabrik saya dengan sentra pertanian. Pabriknya tidak usah besar karena toh hanya untuk pasar lokal saja. Saya akan membuat pupuk organik saya dengan bahan-bahan yang didapatkan dari sekitar wilayah tersebut, saya akan pelihara sendiri sapi dan domba bila di daerah tersebut tidak ada ternak yang bisa diambil kotorannya atau saya akan mensubtitusi bahan-bahan yang tidak tersedia di lokal.
Atau bila saya tidak mampu membuat pabrik di wilayah itu, saya akan ajak para petani kerja sama dan ajarkan mereka membuat dan memproduksi pupuk sendiri dengan standarisasi dan merek dagang produk pupuk saya yang sudah terkenal itu. Saya akan biarkan petani membuat pupuk untuk kalangan mereka sendiri, bahkan menjualnya ke petani sekitar bila mau. Saya tidak akan ambil sepeser pun dari hasil penjualan itu.
Lantas dari mana saya dapat uang? Oho, tunggu dulu, saya kan punya kenalan pengusaha-pengusaha UKM dan koperasi di sekitar sini yang memproduksi berbagai barang dan jasa, mulai cukur rambut sampai warung makan, dari gula merah sampai arang batok, mereka mau bayar untuk pencantuman logo dan produk dalam kemasan pupuk yang diproduksi oleh para petani mitra saya itu sebagai iklan usaha mereka. Dari situlah pundi-pundi saya terisi.

Tentu yang terbaik adalah para petani harus tetap menguasai dan melestarikan cara serta metoda pembuatan pupuk organik sendiri.
Bandung, medio Maret 2008  


Sumber : http://manglayang.blogsome.com/2008/04/15/surat-pembaca-pertanian-organik-vs-pabrikasi-pupuk-organik/#more-71