“Pangan lokal
mengindikasikan bahwa pangan tersebut dapat tersedia di level
masyarakat setempat dan tidak perlu mendatangkan dari luar.
Pangan yang berasal dari budidaya tanaman yang dilakukan setempat dan diolah menurut budaya setempat”
Kompas (1/9/2008) menulis, Indonesia
sebagai negara agraris sudah masuk perangkap pangan negara maju dan
kapitalisme global. Ini menunjukkan fakta tentang ketergantungn
Indonesia terhadap bahan pangan impor.
Bagaimana dengan NTT? Pos Kupang edisi
October 2008 memberitakan, bahwa beras yang diimpor oleh Nusa Tenggara
Timur jumlahnya mencapai puluhan ribu ton. Fakta ini berarti NTT memang
telah bergantung sekali terhadap impor bahan pangan utama beras. Dengan
kata lain ini menunjukkan ketahanan pangan “Beras” berada dalam kondisi
rentan.
Apakah kondisi ini akan terus dibiarkan
berlarut-larut? Padahal bukankah masih ada sumber pangan lokal di
tangan masyarakat NTT sendiri? Sebutlah misalnya jagung,
kacang-kacangan, ubi, rebok, sombu, koil (gaplek), kastela (labu
kuning) dan masih banyak lagi yang lainnya.
Tidak mudah memang untuk mengembalikan
kebiasaan mengkonsumsi kembali pangan lokal. Banyak kendala yang akan
dihadapi. Dapatlah kita perkirakan, paling tidak butuh waktu satu
generasi atau lebih untuk mengubah pola konsumsi pangan penduduk. Dan
tentu harus banyak pula upaya yang harus dilakukan.
Upaya-upaya lain yang dilakukan untuk membudayakan konsumsi pangan lokal
Di rana input produksi
Peningkatan kapasitas masyarakat
menghasilkan input pertanian sendiri yang berwawasan lingkungan tanpa
tergantung dari sumber luar, seperti pembuatan pupuk organik &
pestisida organik, melalui pelatihan Pertanian Berwawasan Lingkungan.
Market Oriented
Peningkatan kapasitas masyarakat dalam
memproduksi tanaman yang berorientasi pasar. Masyarakat petani tidak
akan tergerak hatinya bila komoditi yang diproduksi hanya akan
teronggok di ladang sampai membusuk, karena tidak ada pembeli, atau
kalaupun laku harganya rendah. Untuk itu diperlukan peningkatan
kapasitas masyarakat memproduksi komoditi lokal berorientasi pasar,
sekaligus mampu mengakses pasar. Untuk merespond kebutuhan ini sudah
diagendakan pelatihan dalam waktu dekat.
Peningkatan Kapasitas Pengolahan Pangan Berbasis Bahan Lokal
Pengolahan pangan berbasis bahan lokal
bila dilakukan dengan cermat dan telaten bisa menjadi bahan alternative
makanan utama. Untuk mengolah dan menyajikan makanan berbahan lokal
sehingga enak dari cita rasa dan menarik dari segi penampilan
dibutuhkan keterampilan khusus.
Pangan Lokal masuk Kurikulum Sekolah
Memasukkan materi pangan lokal sebagai
pelajaran tambahan di sekolah dasar. Mengubah pola konsumsi masyarakat
itu membutuhkan waktu. Untuk itu bisa kita mulai dengan memasukkan
materi pangan lokal ke dalam kurikulum pendidikan sekolah dasar
berbarengan dengan pemanfaatan kebun sekolah dan lahan pekarangan
sebagai sumber pangan lokal.
Pentauladanan
Untuk kedepan, semua level masyarakat
sangat dianjurkan memanfaatan pangan lokal sebagai bahan konsumsi.
Sedangkan di level goverment sendiri sudah ada maklumat dari Gubernur
NTT.
Sosialisasi Terus-menerus
Yang tidak kalah pentingnya adalah terus melakukan sosialisasi untuk mengkonsumsi pangan lokal.
Sumber : http://agoesman120.wordpress.com/2009/10/25/%e2%80%98mengapa-harus-pangan-lokal/#more-320