The Byte Converter

Byte Kilobyte Megabyte Gigabyte

1 Byte = 8 Bit
1 Kilobyte = 1024 Bytes
1 Megabyte = 1048576 Bytes
1 Gigabyte = 1073741824 Bytes


The Byte Converter by Malte Philipp

Tuesday, May 16, 2006

Memilih jenis kelamin bayi {01}

MUNGKINKAH MEMILIH JENIS KELAMIN

Secara medis, memilih jenis kelamin bayi sudah sangat dimungkinkan. Bahkan
dengan mengenali sifat sperma, upaya yang lebih praktis dapat dilakukan
sendiri oleh suami-istri.

"Sssst, kalau kepengin anak laki-laki, waktu berhubungan minta saja suamimu
pakai sepatu boot. Lalu posisi saat berhubungan harus miring ke kanan.
Pasti deh nanti anaknya 'jagoan'!" Saran tersebut terdengar lucu, tapi
itulah salah satu mitos tentang cara mendapatkan anak berjenis kelamin
laki-laki. Masih banyak mitos lainnya, semisal jenis kelamin anak pertama
tergantung pada siapa yang jatuh cinta lebih dulu. Bila si ayah yang duluan
jatuh cinta pada ibu maka pasangan tersebut akan dikaruniai anak laki-laki.
Begitu juga sebaliknya.
 
Kondisi ibu yang sedang mengandung pun dipercayai merupakan cerminan jenis
kelamin janinnya. Bila wajah ibu terlihat pucat tetapi rajin berdandan
kemudian bentuk perutnya mirip telur dan condong ke bawah diyakini janinnya
berjenis kelamin perempuan. Namun, bila wajah ibu terlihat kusam, malas
berdandan, penuh jerawat, penampilannya cuek, dan bentuk perut menonjol ke
atas maka bayinya laki-laki.

Tak cuma kita di Indonesia saja yang mengenal mitos-mitos seperti itu.
Masyarakat Jepang pun punya kepercayaan-kepercayaan serupa. Mereka misalnya
percaya bahwa jenis kelamin anak yang bakal lahir bisa diramal dari bulu
kuduk anak sebelumnya. Jika bulu kuduknya menyebar, maka anak berikutnya
pasti laki-laki. Namun bila bulu kuduk anak sebelumnya menyatu, maka anak
berikutnya perempuan.

Yang jelas, munculnya mitos-mitos itu menunjukkan adanya tuntutan pada
sebagian orang untuk mendapatkan anak dengan jenis kelamin tertentu.
Tuntutan yang ada kemudian memunculkan spekulasi tentang apa jenis kelamin
anak yang akan lahir. Dari situlah mitos terbentuk. Belum lagi mitos
mengenai cara-cara mendapatkan anak laki-laki atau perempuan dari yang
kedengarannya masuk akal hingga yang tidak. Umpamanya, untuk mendapatkan
anak perempuan, ibu harus banyak makan makanan yang manis-manis. Hal ini
tentu berlawanan dengan anjuran dokter, karena makanan manis bisa memicu
timbulnya penyakit, seperti diabetes dan hipertensi.
 
CARA MEDIS
 
Kini, ketika ilmu kedokteran sudah semakin maju dan mitos sering terbukti
salah, lebih bijaksana bila keinginan memilih jenis kelamin anak
dikonsultasikan pada ahlinya. Dr. Nugroho Setiawan MS, Sp.And., mengatakan
meski keberhasilannya tidak 100%, secara medis pilih-pilih jenis kelamin
anak sudah dimungkinkan. "Kegagalan bisa saja terjadi karena semua metode
hanya dapat meningkatkan persentase keberhasilan. Tidak ada yang bisa
menjamin 100 % bahwa nanti yang keluar pasti bayi laki-laki atau bayi
perempuan," ujar ahli andrologi dari Klinik Grasia Jakarta ini
 
Berikut beberapa teori ilmiah sekitar cara mendapatkan anak dengan jenis
kelamin tertentu yang dipaparkan Nugroho:

* Teori Akihito

Disebut demikian karena konon yang menemukan adalah kaisar Jepang Hirohito.
Lalu sang putra mahkota, Akihito, menerapkan teori ini dan berhasil
mendapatkan 2 putra dan 1 putri, sesuai dengan keinginannya. Pada intinya
teori ini berdasarkan pada penghitungan masa ovulasi (pengeluaran sel
telur) istri.

Seperti diketahui, laki-laki dalam hal ini sel sperma ada yang memiliki
kromosom seks jenis X dan Y. Sedangkan wanita punya 2 kromosom seks yang
sama yaitu X dan X. Bila dalam berhubungan intim, sperma X membuahi sel
telur maka terjadilah pertemuan kromosom X dengan X, sehingga yang didapat
adalah bayi perempuan (XX). Sebaliknya bila sperma Y yang membuahi sel
telur, maka kromosom Y akan bertemu kromosom X sehingga akan mendapat bayi
laki-laki (XY). Jadi intinya, anak laki-laki bisa diperoleh jika sperma Y
lebih dulu membuahi sel telur. Sedangkan untuk mendapatkan anak perempuan
maka sperma X yang harus lebih dulu membuahi sel telur.
 
Hasil penelitian juga menunjukkan masing-masing kromosom memiliki karakter
sendiri-sendiri. Sperma Y berbentuk bundar, ukurannya lebih kecil atau
sekitar sepertiga kromosom X, bersinar terang, jalannya lebih cepat, dan
usianya lebih pendek serta kurang tahan dalam suasana asam. Sedangkan
sperma X ukurannya lebih besar, berjalan lamban, bentuknya lebih panjang,
dan dapat bertahan hidup lebih lama serta lebih tahan suasana asam.
 
Dari data itu bisa disimpulkan jika ingin memperoleh anak laki-laki maka
hubungan intim harus dilakukan bertepatan atau segera setelah terjadi
ovulasi (saat keluarnya sel telur dari indung telur atau masa subur).
Dengan begitu, sperma Y yang masuk ke dalam rahim dapat langsung membuahi
sel telur. Sedangkan untuk mendapatkan anak perempuan, hubungan intim
sebaiknya dilakukan sebelum ovulasi terjadi. Misalnya, ovulasi diperkirakan
terjadi pada tanggal 10. Oleh karena itu, hubungan intim sebaiknya
dilakukan 3 hari sebelumnya, sehingga pada saat ovulasi terjadi tinggal
sperma X yang masih hidup dan membuahi sel telur.

Metode ini memang tidak praktis karena pasangan harus tahu saat tepat
berlangsungnya ovulasi. Padahal untuk mengetahui hal itu seorang wanita
harus mengukur suhu basal tubuhnya selama 3 bulan berturut-turut. Proses
pengukurannya pun tidak boleh salah, yakni dengan meletakkan termometer
khusus di mulut setiap pagi sebelum turun dari tempat tidur. Ada beberapa
syarat lain, seperti suhu ruang harus normal dan wanita tidak dalam keadaan
sakit. Lalu, hasil pengukuran itu dicatat dalam sebuah tabel. Bila suatu
hari, suhu tubuh menunjukkan peningkatan dibanding suhu basal, berarti saat
itulah ovulasi sedang terjadi.

Sayangnya, bagi wanita yang siklus haidnya tidak teratur, hal ini tentu
sulit dilakukan. Keakuratan metode ini juga rendah karena biar bagaimana
pun kita tidak tahu apakah sperma X atau Y yang berhasil membuahi sel
telur.

* Inseminasi Buatan
 
Inseminasi buatan, dikatakan Nugroho dapat memberikan hasil yang lebih
akurat ketimbang metode Akihito. Proses inseminasi ini diawali dengan
menampung sperma di dalam gelas hasil dari masturbasi atau coitus
interuptus. Kemudian, sperma disaring dengan dua lapis media khusus yang
kekentalannya berbeda untuk memisahkan sperma dengan semennya, serta sperma
X dari sperma Y. Pemisahan dapat dilakukan karena berat molekul keduanya
berbeda. Sperma X akan lebih cepat mencapai lapisan bawah dibanding sperma
Y. Sedangkan dengan melihat teknik berenang keduanya, mana yang lebih dulu
bergerak ke atas, itulah sperma Y.

Kemudian sperma yang sudah dipisahkan akan disuntikkan ke dalam rahim saat
istri sedang melalui masa subur. "Jaminan keberhasilan metode ini adalah
85% untuk bayi perempuan dan 80% untuk bayi laki-laki," papar ahli
andrologi yang juga berpraktek di RS Internasional Bintaro, Banten.
 
CARA PRAKTIS

Selain cara medis, ada beberapa cara praktis yang diyakini dapat membuat
pasangan memperoleh anak dengan jenis kelamin yang diidam-idamkan. Hanya
saja, ahli kandungan dari RS Islam di Jakarta Timur, dr. Muhammad Natsir,
Sp.OG, M.Kes., menegaskan bahwa langkah-langkah ini juga tidak dapat
dijamin 100% keakuratannya.

(MENDAPATKAN ANAK LAKI-LAKI)

* Membilas Vagina dengan Air + Soda

Larutan untuk membilas dibuat dari campuran 1 gelas air + 2 sendok makan
garam soda (natrium bikarbonat soda). Kenapa harus dibilas seperti itu?
Seperti sudah disebutkan, kromosom X bersifat lebih tahan asam sedangan
kromosom Y bersifat kurang tahan asam serta jalannya lebih cepat. Nah,
pembilasan vagina dengan larutan garam soda bertujuan menurunkan kadar
keasaman vagina, sehingga sperma Y lebih terjamin hidupnya dan bisa
melewati liang vagina menuju rahim untuk membuahi sel telur.

* Istri Orgasme Lebih Dulu

Biarkan istri mencapai orgasme lebih dahulu baru disusul suami. Cairan yang
dihasilkan saat wanita mengalami orgasme akan lebih mendukung pergerakan
sperma Y untuk lebih cepat sampai ke sel telur. Semakin cepat sampai akan
semakin baik, karena usia sperma Y lebih pendek.

* Posisi Knee-Chest
 
Ada posisi yang diduga bisa membuat sperma Y meluncur cepat melalui liang
vagina, rahim, dan sampai ke sel telur, yaitu posisi knee-chest (genu
pektoral). Posisi dimana suami bersetubuh dengan istri dari belakang ini
disebut juga doggie style.

* Penetrasi Dalam

Semakin dalam penetrasi, maka semakin dekat jarak yang ditempuh sperma
menuju sel telur. Bila suami bisa menekan sedalam-dalamnya saat ejakulasi
berlangsung, hal ini bisa meningkatkan kemungkinan mendapat anak laki-laki.
 
* "Puasa" Sementara

Untuk meningkatkan kuantitas volume spermanya, suami dianjurkan menabung
spermanya atau tidak melakukan ejakulasi sekitar 7-8 hari. Dengan jumlah
sperma yang lebih banyak per mililiternya, kemungkinan mendapatkan anak
laki-laki juga meningkat.

Puasa seks juga bertujuan menghindari kemungkinan tertinggalnya sperma X
dari hubungan intim yang dilakukan beberapa hari sebelum masa ovulasi. Bila
ada sperma X tertinggal dalam organ reproduksi wanita, begitu tiba masa
ovulasi, ia dapat langsung membuahi sel telur. Berarti anak perempuanlah
yang akan didapat. Sedangkan jika dalam seminggu sebelumnya puasa seks
dijalankan, maka sperma Y memiliki kesempatan yang besar untuk membuahi sel
telur.

(MEMPEROLEH ANAK PEREMPUAN)

* Membasuh Vagina dengan Air + Cuka Untuk meningkatkan kadar keasaman
vagina, basuhlah daerah itu dengan 1 gelas air yang sudah dicampur 2 sendok
makan asam cuka. Lingkungan vagina bersuasana asam diharapkan dapat
mematikan sperma Y sehingga sperma X selamat sampai tujuan. Volume sperma X
yang banyak dapat meningkatkan kemungkinan menghasilkan anak perempuan.

* Hindari Orgasme
 

Saat melakukan hubungan intim, usahakan agar ejakulasi terjadi sebelum
istri mencapai orgasme. Tanpa orgasme, sekresi alkalis (pengeluaran
substansi yang membuat daerah vagina bersifat basa) tidak terjadi dan ini
akan membuat sperma Y mati sehingga menguntungkan sperma X yang punya daya
tahan lebih baik.

* Posisi Muka Bertemu Muka

Hubungan intim dengan posisi saling berhadapan, istri di bawah dan suami di
atas sebetulnya membuat sperma tidak bisa langsung menerobos ke mulut
serviks (leher rahim). Dengan begitu waktu yang dibutuhkan sperma pun akan
lebih lama dan hal ini lebih menguntungkan sperma X.
 
* Penetrasi Pendek
 
Penetrasi pendek dilakukan dengan cara mengangkat penis hingga ke ujung
vagina saat suami mengalami ejakulasi. Tindakan ini berarti memperpanjang
jarak sperma ke sel telur yang diduga akan menambah persentase kesempatan
sperma X mengingat daya tahannya yang lebih kuat ketimbang sperma Y.
 
* Seks Teratur

Dengan seks teratur, volume sperma yang keluar otomatis lebih sedikit
karena tidak ada sperma yang ditabung. Hal ini diyakini akan meningkatkan
kemungkinan mendapatkan anak perempuan. Kenapa? Sebelum mencapai sel telur,
sperma harus melalui perjalanan berat. Sebagian sel sperma akan mati di
perjalanan, terutama sperma Y yang berumur pendek. Akhirnya semakin lama
jumlahnya akan semakin sedikit.
 
Nah, untuk mendapatkan volume sperma yang sedikit, hubungan intim sebaiknya
dilakukan setelah haid, setiap 2 hari sekali hingga 2-3 hari menjelang
ovulasi. Dengan begitu, sperma X yang tahan lebih lama mungkin saja banyak
yang masih tertinggal dan akan membuahi sel telur begitu ovulasi terjadi.